Program Studi Matematika ITERA Gandeng BMKG Stasiun Klimatologi Pesawaran dalam Kerjasama Bahas Pemodelan Kejadian Demam Berdarah Dengue

Tepat hari ini, Kamis 16 Mei 2024, Program Studi Matematika (PS MA) ITERA berkesempatan menjalin kerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegiatan ini diinisiasi oleh Bapak Prof. Edy Soewono selaku Koordinator Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LP3M) ITERA, Bapak Dr. Rifky Fauzi selaku Koordinator PS MA ITERA, dan Ibu Dr. Werry Febrianti selaku dosen aktif di PS MA ITERA. Dalam kegiatan yang dilakukan di Stasiun Klimatologi Pesawaran ini, kerjasama bertajuk “Pemodelan Dampak Iklim dan Prediksi Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)” dikukuhkan.

Dalam pertemuan ini, Bapak Indra Purna dari Stasiun Klimatologi menyambut baik kerjasama ini, karena ini bisa jadi yang pertama kali ada di Sumatera setelah DBDClim di Jakarta dan yang baru launching di Bali. Di kesempatan lain, Prof. Edy Soewono menyatakan bahwa Project DBDClim pertama kali diinisiasi dari kerjasama antara peneliti dari Matematika ITB dan Dinas Kesehatan dan BMKG – adanya kerjasama dari ketiga instansi ini menghasilkan produk berupa sistem peringatan dini DBD berbasis kondisi iklim. Lebih lanjut, Prof. Edy juga menekankan bahwa ini bukan merupakan hal yang mudah, namun dengan sambutan yang baik dari BMKG Stasiun Klimatologi Pesawaran dan dukungan dari ITERA kami optimis upaya kerjasama ini dapat berjalan dengan baik. Selaku Kaprodi PS MA, Bapak Dr. Rifky menambahkan bahwa dikarenakan kondisi iklim berpengaruh terhadap angka kejadian DBD, sementara kondisi iklim yang kian berubah, artinya kajian mengenai pengaruh iklim terhadap penularan DBD perlu terus dilakukan. Beliau mengharapkan kerjasama ini juga bisa terus dilakukan dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Dengan adanya kerjasama yang baik antara dosen-dosen aktif di ITERA dan staf peneliti di BMKG Stasiun Klimatologi, diharapkan bertumbuhnya sinergi berkelanjutan dalam hal ini untuk mengkaji pengaruh dari perubahan cuaca ke aktifitas masyarakat. Di sektor kesehatan, tentunya kita berharap tingginya angka kejadian DBD di Provinsi Lampung dapat dikendalikan dan diatasi sehingga tidak mengakibatkan kerugian di sektor-sektor lainnya.
